Rabu, 15 Januari 2014


Pengaruh Hereditas dan lingkungan dalam Pendidikan
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, karena diberi akal dan pikiran. Namun setiap manusia memiliki tingkat intelektual yang berbeda – beda, hal ini bisa disebabkan oleh 2 faktor, yaitu hereditas dan lingkungan. Hereditas dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya kepada anaknya. Pewarisan ini terjadi melalui proses genetis. Hereditas memiliki peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia. Manusia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari ibu bapaknya atau nenek dan kakeknya. Warisan (keturunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting antara lain: bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakit. Dalam artikel ini kita akan membahas tentang inteligensi.
Inteligensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: berpikir, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya. Seorang ahli mengatakan bahwa nasib anak itu sebagian besar berpusat pada pembawaannya, sementara pengaruh lingkungannya hanya sedikit saja (Moh. Kasiram 1983:27 dalam aliran Nativisme). Apabila salah satu orang tuanya pandai, anaknya pun akan mewarisi kepandaiannya, begitu sebaliknya. Seorang anak yang lahir dari keturunan orang tua yang kurang pandai belum tentu anaknya akan menjadi anak yang bodoh, tidak ada manusia yang bodoh,  kebodohan bisa diubah dengan cara belajar. Aktivitas dari seorang anak itu akan berpengaruh terhadap perkembangan intelegensinya, aktivitas yang dimaksud seperti belajar di sekolah, belajar melalui pengalaman dari lingkungan, dsb.
Hereditas dan lingkungan, keduanya merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat intelegensi manusia. Individu lahir dengan hereditas (pembawaan) masing – masing yang bersifat potensial (fithrah) dan akan menjadi kenyataan karena pengaruh lingkungan. Manusia bisa dididik dan diubah menjadi apa saja, bisa ke arah baik maupun buruk sesuai kehendak lingkungannya, termasuk juga pendidikannya. Melalui pendidikan, manusia bisa dididik ke arah yang baik, belajar mengenai hal – hal yang baik. Dan lingkungan pun harus mendukung, harus berada di lingkungan yang sehat, jauh dari hal – hal yang tidak baik. Jadi antara pembelajaran dari sekolah (pendidikan) dan pengaruh lingkungan harus berjalan seimbang.

Daftar Pustaka
Drs.H.Baharudin, M.Pdi.2011.”Hereditas dan Lingkungan”.Jakarta : Gramedia

Selasa, 03 Desember 2013

Psikologi Penting dalam Pendidikan



Dalam dunia pendidikan, memahami karakter peserta didik merupakan hal yang sangat penting, dan pemahaman akan peserta didik harus dilakukan oleh pendidik yaitu guru. Guru harus berbakat dalam hal ini. Seorang guru bisa memahami karakter anak didiknya dengan cara belajar tentang ilmu kejiwaan atau psikologi. Semua yang dibutuhkan oleh guru untuk memahami karakter anak didiknya ada di dalam psikologi. Untuk itu kita akan membahas seberapa penting psikologi di dalam pendidikan ?
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peseta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. Disinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru.
Dengan memahami psikologi pendidikan, diharapkan :
  1. Guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
  2. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
  3. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotifasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya dalam belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yag memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
Secara psokologis, anak didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan, baik perbedaan minat, bakat, maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dengan alasan itulah, guru harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan dan belajar anak. Anak sejak dilahirkan sudah memperlihatkan keunikan–keunikan yang berbeda satu sama lainnya, seperti pernyataan dirinya dalam bentuk tangisan dan gerakan–gerakan tubuhnya. Hal ini menggambarkan bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi untuk berkembang. Di dalam psikologi perkembangan terdapat banyak pandangan ahli berkenaan dengan perkembangan individu pada tiap–tiap fase perkembangan. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiaan, tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Seorang anak mungkin lebih cepat perkembangannya pada tahap tertentu, tetapi lambat pada tahap lainnya, atau perkembangan aspek tertentu lebih cepat di bandingkan dengan aspek lainnya. Setiap anak merupakan pribadi tersendiri, memiliki perbedaan di samping persamaannya. Adanya perbedaan-perbedaan tersebut sering menimbulkan kebingungan bagi para guru.
Jadi seorang pendidik harus belajar mengenai ilmu kejiawaan atau psikologi. Dengan demikian, guru akan lebih mudah mendidik dan mengatur situasi pada saat proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar yang berhasil akan memudahkan tercapainya tujuan pendidikan yang efektif dan efisien.

Daftar Pustaka
Drs.H.Baharudin, M.Pdi.2011.”Pentingnya Psikologi dalam Pendidikan”.Jakarta : Gramedia

Kamis, 07 November 2013

Norma VS Pendidikan



Di dalam lingkup pendidikan sangat erat hubungannya dengan norma. Misalnya norma dalam bersikap, tingkah laku, dan kesopanan. Dalam dunia pendidikan selalu diajarkan mengenai norma tersebut. Selain itu diajarkan juga bagaimana cara menerapkan norma – norma tersebut dalam kehidupan sehari – hari. Bagaimana cara kita berperilaku baik, sopan, dan tidak sewenang – wenang terhadap orang lain.
Tidak bisa dipungkiri jika pendidikan memegang peran penting dalam perkembangan kejiwaan atau kepribadian seseorang. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka pemahaman terhadap sesuatu pun bisa jadi menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang sama sekali tidak mengenal pendidikan. Dengan mengenyam dunia pendidikan, manusia diharapkan bisa dan mampu menampakkan rasa kemanusiannya. Namun pada kenyataannya masih banyak orang yang mengenyam pendidikan tinggi bertindak sewenang – wenang terhadap orang lain. Kita ambil contoh dari pejabat tinggi Negara kita. Bukankah mereka mengenyam pendidikan tinggi? Mereka memperoleh gelar sarjana S1 hingga profesor. Namun mereka masih tidak peduli dengan rakyatnya, terutama rakyat miskin. Mereka mengambil hak milik rakyatnya dan bertindak tidak adil. selain itu, kita bisa juga mengambil contoh dari aparat kepolisian. Seorang aparat yang dianggap sebagai penegak hukum ini sering berperilaku tidak adil. Rakyat miskin mencuri ayam bisa dihukum mati, sedangkan pejabat tinggi yang korupsi diberi fasilitas mewah di dalam penjara. Hal itu sudah menunjukkan bahwa pendidikan tidak berpengaruh terhadap norma dan kepribadian seseorang.
Para ahli pendidikan sering berpendapat bahwa manusia dapat dididik menjadi apa saja, bisa ke arah baik maupun buruk sesuai kehendak lingkungannya, termasuk pendidikannya (John Locke 1632 – 1704). Sangat mencolok perbedaan perbedaan antara seseorang yang mengenyam pendidikan dengan seseorang yang sama sekali tidak mengenal bangku pendidikan. Bisa dilihat dari cara berbicara dan pengetahuannya. Namun setiap orang memiliki hati dan kepribadian yang berbeda – beda. Walaupun tidak mengenyam pendidikan tinggi namun kepribadiannya baik, pasti akan menjadi pribadi yang baik. Begitu sebaliknya, walaupun mengenyam pendidikan tinggi namun kepribadiannya buruk, pasti akan menjadi pribadi yang buruk pula. Seseorang yang buruk bisa berubah menjadi baik sesuai hati dan kemauannya masing – masing, dibantu dengan lingkungan yang mendukung termasuk pendidikan.

Daftar Pustaka
http://www.slideshare.net/andhikanostalgithers/pendidikan-moral-dan-mutu-pendidikan-indonesia
Haryatmoko.2013."Etika,politik,pejabat,korupsi,norma,dan pemerintahan". Jakarta : Gramedia