Kamis, 07 November 2013

Norma VS Pendidikan



Di dalam lingkup pendidikan sangat erat hubungannya dengan norma. Misalnya norma dalam bersikap, tingkah laku, dan kesopanan. Dalam dunia pendidikan selalu diajarkan mengenai norma tersebut. Selain itu diajarkan juga bagaimana cara menerapkan norma – norma tersebut dalam kehidupan sehari – hari. Bagaimana cara kita berperilaku baik, sopan, dan tidak sewenang – wenang terhadap orang lain.
Tidak bisa dipungkiri jika pendidikan memegang peran penting dalam perkembangan kejiwaan atau kepribadian seseorang. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka pemahaman terhadap sesuatu pun bisa jadi menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang sama sekali tidak mengenal pendidikan. Dengan mengenyam dunia pendidikan, manusia diharapkan bisa dan mampu menampakkan rasa kemanusiannya. Namun pada kenyataannya masih banyak orang yang mengenyam pendidikan tinggi bertindak sewenang – wenang terhadap orang lain. Kita ambil contoh dari pejabat tinggi Negara kita. Bukankah mereka mengenyam pendidikan tinggi? Mereka memperoleh gelar sarjana S1 hingga profesor. Namun mereka masih tidak peduli dengan rakyatnya, terutama rakyat miskin. Mereka mengambil hak milik rakyatnya dan bertindak tidak adil. selain itu, kita bisa juga mengambil contoh dari aparat kepolisian. Seorang aparat yang dianggap sebagai penegak hukum ini sering berperilaku tidak adil. Rakyat miskin mencuri ayam bisa dihukum mati, sedangkan pejabat tinggi yang korupsi diberi fasilitas mewah di dalam penjara. Hal itu sudah menunjukkan bahwa pendidikan tidak berpengaruh terhadap norma dan kepribadian seseorang.
Para ahli pendidikan sering berpendapat bahwa manusia dapat dididik menjadi apa saja, bisa ke arah baik maupun buruk sesuai kehendak lingkungannya, termasuk pendidikannya (John Locke 1632 – 1704). Sangat mencolok perbedaan perbedaan antara seseorang yang mengenyam pendidikan dengan seseorang yang sama sekali tidak mengenal bangku pendidikan. Bisa dilihat dari cara berbicara dan pengetahuannya. Namun setiap orang memiliki hati dan kepribadian yang berbeda – beda. Walaupun tidak mengenyam pendidikan tinggi namun kepribadiannya baik, pasti akan menjadi pribadi yang baik. Begitu sebaliknya, walaupun mengenyam pendidikan tinggi namun kepribadiannya buruk, pasti akan menjadi pribadi yang buruk pula. Seseorang yang buruk bisa berubah menjadi baik sesuai hati dan kemauannya masing – masing, dibantu dengan lingkungan yang mendukung termasuk pendidikan.

Daftar Pustaka
http://www.slideshare.net/andhikanostalgithers/pendidikan-moral-dan-mutu-pendidikan-indonesia
Haryatmoko.2013."Etika,politik,pejabat,korupsi,norma,dan pemerintahan". Jakarta : Gramedia